Tampilkan postingan dengan label Rak Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rak Jurnal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

Predawn Wish

I can't turn myself into a never making mistakes person
only You can.

I can't also turn other people into a wise sensible person
only You can.



If this keep happening,
please also keep me stay sane.

Rabu, 07 Juni 2023

Menua

Saya melihat kakek menua di tahun-tahun terakhirnya. Sungguh pengalaman yang berbeda, mengingat nenek dulu wafat di usia jauh lebih muda. Secara tiba-tiba, karena serangan jantung. Tidak ada yang menduga pun melihatnya merenta sebagaimana kakek. 

Kakek, dalam setahun terakhirnya, mengalami penurunan kemampuan yang sangat drastis. Saya ingat ketika mendapati paman saya sedang menangis tersedu (pertama kali saya melihatnya demikian) seusai membantu kakek di kamar mandi. "Dia (kakek) bahkan tidak bisa mengangkat gayung, padahal airnya sangat sedikit," katanya. 

Saya melihat kakek saya kebingungan sambil berkata, "Saya mau pulang," di saat ia sedang berada di rumahnya sendiri - yang telah direnovasi - menyangka itu rumah tante. Saya mengerti bagaimana ia memilih tidur di ruang tamu; satu-satunya tempat di mana ia bisa melihat ke teras depan, dan meyakinkan diri bahwa ia benar sedang di rumahnya. 

Ia melihat orang-orang datang silih berganti. Orang-orang yang bahkan tidak ia kenali. Ia memanggil anakku dengan nama sepupuku, sepupuku dengan nama tanteku, dan seterusnya. Sungguh tak bisa kubayangkan betapa melelahkan baginya melihat wajah-wajah terus berubah sepanjang waktu dengan nama yang sama, atau nama yang terus berubah dengan wajah yang sama. Tertidur di suatu waktu dan terbangun di waktu yang jauh berbeda. Memori dan waktu seolah sedang bermain petak umpet mengelabui inderanya, menanti untuk ditemukan entah di mana.

Maka ketika suatu waktu ia keluar rumah secara diam-diam - yang membuat semua keluarga panik - dan pulang membawa jam dinding, saya baru bisa mengerti. Ia kehilangan waktu, dan berusaha membelinya meski dengan semua pundi di kantongnya. Tidak hanya itu, ia berusaha mengenalnya, menggenggamnya, melibatkan diri dalam perputaran detiknya. Agar ia tidak tertinggal lagi di masa lalu dan berusaha (retry) mengejar nama dan wajah-wajah. 

Betapa lelahnya masa tua itu bahkan bagi mereka yang terlihat hanya berbaring. Sungguh masa muda yang akan pergi ini memang harus sungguh-sungguh dimanfaatkan. 

Allahummaghfirlahuma.

Jumat, 19 Mei 2023

Si Paling Surga


"Iya deh, yang punya orang dalam di surga..."
"Kayak surga punya dia sendiri saja!"
"Cieee si paling surga!"

Saya selalu takjub dengan tulisan-tulisan tak berwajah di sosial media. Meski puluhan tahun hobi menulis, saya masih terperangah dengan kekuatan kata-kata yang tidak pernah terlintas di benak saya! 

Yang sering luput adalah, pemiliknya kadang tidak menyadari magisnya kata yang diketiknya dan pengaruhnya terhadap orang yang ditujunya. 

Padahal, di balik dunia maya, mereka yang disebut "Si paling surga" mungkin sedang menangisi dosa-dosa mereka yang sampai sekarang belum bisa mereka tinggalkan.

Bisa jadi, unggahan mereka adalah untuk melawan diri yang ingin mengkhianati postingan itu sendiri.

Bisa jadi, mereka hanya takut membuat duri dalam media sosial yang kelak akan menusuk kaki mereka sendiri. 

Ya, war dengan diri sendiri ternyata lebih sulit dari melawan ratusan ribu orang lain. 

Mungkin karena, menghadapi diri sendiri adalah 24/7 non-stop online
tanpa block
tanpa turn off comments
tanpa delete

Dan yang nyata di dunia ini sebenarnya adalah maya di akhirat
Dan segala tentang surga atau neraka ternyata bukan urusan nanti
       tapi sekarang; kesempatan
       mendapatkan tiket yang
       tak akan terulang.

Sabtu, 21 Januari 2023

Sabar

Siang ini, saya mencoba merakit kembali potongan teori dari media ini dan itu, menjadikannya sebuah kolase utuh, dan gagal. Jari saya sepertinya terlalu kuat menggenggam sekaligus terlalu lemah mengangkat; kepingan itu berserakan, menempel di tempat tak seharusnya, tak berbentuk pun bernilai. 

_Dalam Al Qur'an, sinar matahari disebut dhiya'. Cahaya bulan disebut nur._

Sejenak, sy melihat diri saya sedang duduk di bangku SD, sedang mencatat pelajaran tentang perbedaan sinar dan cahaya. Saya terpaku. Kepingan yang berusaha saya susun adalah sabar. Yang teorinya begitu indah, konsepnya nyaris sempurna. Tapi sedetik menjalaninya, saya gugup.

_Rasulullah ﷺ menyebut sabar sebagai dhiya', shalat sebagai nur._

 Sabar — seperti matahari — sinarnya adalah sumber, bukan pantulan. Sarat energi, penuh panas.
Meski sekilas, sabar tampak seperti air tanpa riak. Tenang, hening. Nyatanya, menahan diri kerap makan energi tidak kalah banyak ketimbang meluapkan emosi. 

_Sabar itu ada tiga. Yang pertama, sabar dalam ketaatan. Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat. Lalu, sabar dalam menghadapi takdir._

Mungkin pelajaran yang satu ini, adalah subjek seumur hidup. Dhiya' dan nur adalah kebutuhan seumur hidup. 

_“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45)_

Selasa, 03 Januari 2023

Puisi Mas Nuh

Tadi siang, aku tidak main bersama ibuku

Ibuku membuatkan susu
tapi bukan jam 10;
                              aku mengingatkannya dulu.

Rabu, 31 Agustus 2022

Jebakan

"Ya Rabb-ku, ... jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala."
(Surah Ibrahim: 35) 

Ia, seorang nabi, Khalilullah, bapak para nabi. Tapi, ya, ia takut. Takut diri dan keturunannya berbuat kesyirikan. 

Saya terhenyak. Saya bukan siapa-siapa. Anak nabi, bukan. Seorang 'alim, bukan. Karib dengan 'alim pun tidak. 

Masih merasa aman? 
Hanya dengan mengantongi KTP 'Islam'? 

_Tidak ada yang takut akan kesyirikan dan kemunafikan kecuali orang-orang mukmin._

Merasa aman adalah jebakan!

Saya mendengar warna. Melihat atribut. Hilang di tengah ramai gempita.
Dan masih merasa aman? 

Batas itu tipis. Terus menerus menipis.

Saya paham benar bahwa tidak benar paham dan dunia benar-benar tempat kesalahpahaman. 

_Wallahu waliyyut taufiq._

Senin, 02 Mei 2022

Ramadhan

Ya Rabb. 
Sesungguhnya satu Ramadhan sering terasa tidak cukup bagi
kehausan hamba akan rahmatMu

Namun Engkaulah Rabb Yang Maha Mengetahui
dan hamba tidak tahu apa-apa

Dan Engkaulah Rabb yang begitu luas kasih sayangNya
dan hamba begitu kerdil, begitu butuh

Apalah hamba tanpa ampunanMu, ya Rabb
tanpa rahmat dan pertolonganMu

Sesungguhnya amalan hamba sangat sedikit
(itu pun, tidak bisa hamba lakukan tanpa bantuanMu), 
dan Engkau berhak atas yang lebih banyak dari hamba

Maka ampunilah kekurangan hamba, 
dan masukkanlah hamba ke dalam golongan orang-orang yang Engkau rahmati, Engkau mudahkan dalam beribadah, Engkau ampuni, Engkau terima ibadahnya, Engkau lindungi, Engkau beri pertolongan

Meski hamba tidak pantas untuk itu, tapi, 
hamba tidak bisa tanpa rahmatmu, ya Rabb

Apalah hamba tanpa ampunanMu

Hati hamba begitu perih dengan perginya ramadhan
dan yang bisa menenangkan hamba adalah bahwa rahmatMu ada di sepanjang tahun
Terimalah amalan hamba yang begitu sedikit dan penuh kekurangan ini, ya Rabb
dan dengan rahmatMu, hamba mohon cukupkanlah amalan hamba untuk mendapat rahmatMu lagi

Karena, sungguh, apalah hamba tanpa rahmatMu. 

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni
Rabbana taqabbal minna, innaka anta sami'ul 'alim.

Selasa, 19 April 2022

Kakekku yang Baik (2)

Saya masih mengingat jelas sorot dua mata itu. Sedikit basah, dilengkapi senyum merekah. Saya menangkap limpahan kata dan rasa di dalamnya: bangga. Kebanggaan yang sering saya rasa berlebih untuk prestasiku yang sebenarnya receh. 

Tak dipungkiri, memang, kakek dan nenek adalah orang-orang yang selalu menjadi 'fans' cucu-cucunya. Dukungan mereka punya warna berbeda dengan ibu bapak. Saya ingat bagaimana Etta, kakek saya, mengantar dan menjemput saya di sekolah. Atau bagaimana ia membuatkan ayunan untuk saya di halaman samping. Atau saat ia membuatkan kandang bagi kelinci peliharaan saya. Alhamdulillah, Biidznillah, menjadi cucu tertua memberikan saya lebih banyak waktu bersamanya, di masa sehatnya. 

Terakhir, sebelum usia tuanya merenggut sebagian besar kesadarannya, ia sempat memberikan saya sebuah senter. Ia, seperti halnya orang-orang tua zaman dulu, juga menggemari senter. Entah mengapa, tapi kuduga karena dulu sempat merasakan sulitnya pencahayaan di malam hari. Dengan kagum ia menjelaskan, 
"Senter ini bagus, Nak. Bisa diatur cahayanya mau besar atau kecil. Bisa di-charge juga, tidak usah ganti baterai. Siapa tahu kamu butuh kalau tiba-tiba mati lampu."

Saya baru sadar itu adalah pemberian yang sangat berarti. Bukan harganya, tapi simbol dan nilainya. Bahwa ia tidak ingin saya kesulitan, bahkan saat 'sekadar' mati lampu saja. 

Etta. Kebaikannya diingat semua orang, dan saya hanya salah satunya. Menjadi cucunya adalah salah satu rezeki tak ternilai dari Rabb yang Maha Perahmat. 

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu'anhu.

Rabu, 16 Februari 2022

Matematika Ini Tidak Mudah, Bukan?



Hitunglah hal-hal di bawah ini!

Berapa kali kau terhimpit kesulitan, lalu Ia menolongmu? 

Berapa kali kau merasa begitu takut, dan Ia melindungimu? 

Berapa kali kau yakin tidak punya harapan, tapi Ia memberimu jalan keluar?


Lalu berapa kali kamu memaksiatiNya, saat sedang sendiri? 

                            dan Ia tetap menutup aibmu?


Berapa banyak nikmatNya padamu? 
Berapa banyak dosamu padaNya?

Tuliskan hasilnya dalam sujudmu!

Sabtu, 05 Februari 2022

Demensia

Halo, Diri. 

Allah ﷻ sudah memfasilitasimu dengan SEMUA yang kamu butuhkan untuk akhiratmu.

Jadi apa yang memberatkan hatimu? Keinginan dunia? 

Ingat, kamu itu hamba.
Memangnya untuk apa
                                      kamu diciptakan?

Minggu, 28 November 2021

Reconnect

Reconnecting with your self
is actually
reconnecting with your Rabb. 

Bayangkan, jika kau dapat meminta pada 
Yang Membolak-balikkan hatimu
untuk menghubungkannya kembali
pada diri terbaikmu

di mana kau tidak lalai
di mana kau tahu tujuanmu, prioritasmu, 
di mana cinta membuatmu tenang; karena ia bukan dunia yang selalu terburu-buru

di mana kau tidak butuh media untuk memahami diri sendiri

di mana kau tidak butuh biaya
tak pula perantara
untuk bahagia.

Rabu, 29 September 2021

Inner\child

I miss you, Mama. 
I miss you, Papa.

I miss being a kid. 
That kid, long time ago
who lived with both of her parents
Went to school,
took a nap, 
played with dolls, 
and homework seemed to be the only problem


Or, just seeing her both parents
watched the tv
with no — no at all — wound in her heart


I really miss you both
I hug my kids but I guess
I'm the kid who wants your hugs the most

Mama, Papa, 
thank you for being my parents
may Allahﷻ always save you :'.



AMQ-MKS-KDI


Minggu, 26 September 2021

Sandar*

Pukul dua malam. 

Kau duduk sendiri,
mengetuk nyeri
mengabai dzikir perisai diri

"Aku takut," batinmu, sambil
menyembunyikan pisau ke
bawah air

Oh, betapa bersandarnya kau pada makhluk!

Lalu,

Rasa amanmu pulang,
lelap kau dalam tenang
hingga ketika risaumu hilang, 

hah! 

diremuknya asamu dalam tangannya
luluh lebur dalam sisa sangka
siapa yang duga? 

"Jangan pura-pura lupa.
Kau selalu tahu, memutuskan bertopang
pada makhluk
adalah menggali perangkap
kecewamu sendiri."

Dalam dua malam kau menelan ketakutan,
Ia melindungimu.
Dua hari kau merebah pada aman,
dia menyakitimu. 

_____

*Jangan tertipu lagi, diri. 
Sungguh kau mengenal Rabb-mu yang Maha Pelindung.
Hasbiyallah wani'mal wakil."



Sabtu, 11 September 2021

Obituari Jum'at

Pagi itu saya terhenyak. Beberapa menit sebelumnya, mama menelpon dalam tangis. 
"Nenekmu jatuh tadi subuh, lalu terkena stroke. Sampai sekarang belum sadar."

Tak lama kemudian, sebuah pesan dari papa pun mengabarkan demikian. 

Innalillah

Usia nenek memang sudah cukup tua. Tapi, dengan segala penyakit usia yang melekat, ia cukup sehat. Beberapa waktu lalu masih sempat saling menatap via panggilan video dengan anak-anak. Biidznillah

"Tidak dibawa ke rumah sakit, Pa?" tanyaku pada papa melalui telepon. 

"Perawat dan alatnya yang dibawa ke sini, Nak. Kalau ke rumah sakit harus swab dulu, khawatir kami tidak boleh merawat lagi."

Sungguh, tidak tertolak lagi bahwa pandemi ini adalah masa-masa yang sulit bagi setiap orang. Nenek, terkena stroke, tidak bisa langsung menjalani perawatan di Rumah Sakit. Harus melalui serangkaian tes dulu, meski kondisinya gawat. Begitu pun keluarga yang ingin menjaga. Hanya boleh satu orang, dipastikan bebas virus, baru boleh jadi pendamping. 

Sepanjang hari saya berharap ada perubahan pada kondisi nenek. Semoga membaik. Semoga lekas sadar. Semoga Allahﷻ menolong dan memudahkan. 

Jum'at. Hari mustajab untuk berdo'a. Setelah Ashar, pada Rabb yang Maha Pengampun, segala hajat tercurah. Agar kesembuhan nenek dimudahkan jika Allahﷻ masih merahmati dengan umur. Agar nenek terlepas dari sakit dan kesulitan jika Allahﷻ telah menulis ajal. 

Setelah Isya', telepon saya berdering lagi. Kali ini dari tante. "Mohon do'akan nenek, Nak. Ia sudah tiada."

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."

Saya tidak bisa membendung air mata. Berbagai memori muncul di kepala saya: cara nenek berdzikir setelah shalat, bagaimana ia memberi uang jajan setiap mampir ke rumah, pesan-pesan yang ia haturkan dengan suara kecil, dan semua kebaikan yang tidak terhitung. 

Nenek dan papa di Kendari. Mama di Makassar. Saya di Ambon. Tidak melihat nenek untuk terakhir kalinya tentu menjadi kesedihan mendalam. 

Namun, kematian mengetuk hati dengan berbagai cara. Ada yang menangis karena takut pada rindu. Tidak bisa bertemu lagi, berpeluk lagi, saling bercanda lagi. Ada yang menangis karena belum sempat saling maaf, atau ada janji yang belum tertunaikan. 

Di sisi lain, ada yang menangis karena menyadari: waktu yang diberikan Allahﷻ untuk orang tersayangnya telah habis. Ia kini harus berhadapan dengan alam kubur, menjawab pertanyaan malaikat, menyisakan do'a yang terus berdesakan ke langit pada Yang Maha Pengampun. 

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Allahummaghfirlaha, warhamha, wa'afiha, wa'fu'anha. 
Nenek Johar ❤. 

Selasa, 06 April 2021

Surat dari Rumah (3)



Tungkaimu memeluk hujan, di 
sana
di sini,
tangkaiku menekuk paran


Mari bercerita tentang hari
kebalikan
di mana telinga berebut membaca dan 
mulut padam teredam

"vice versa, 
vice versa"

kata titik-titik pada atlas
yang kerap lupa tempatnya





Sabtu, 21 November 2020

Kamis, 10 September 2020

Note-thing.




I found this post randomly on the social media: thing I actually hate but hadn't escape from. I feel guilty for the 'oh so related' feeling but — oh! So related. 

I feel so tired. Don't know how but my body parts also say that they're tired too. Headache, irregular flows, itchy skin, etc. What am I tired of anyway? Being me? Haha. 

Too many things I wouldn't ever talk to anyone. Some are secrets, some are just unexplainable. Is it okay to pass every morning waiting for the night to come? So I can sleep - pray privately - sleep. 

May Allahﷻ help me through this while me keep being a fair mother and human. Aamiin


Rabu, 29 Juli 2020

Kilas


Semua pasti takjub saat menyadari bagaimana Allah memilihkan pribadi-pribadi tertentu ke dalam hidup kita. Orang-orang yang turut membentuk serta membantu tumbuh dan menua. Pun, orang-orang yang lekat padahal tak ada ikatan darah: teman.


Beberapa waktu lalu saat merapikan isi harddisk, saya tertegun. Sepertinya sekama ini saya untung banyak. Duh, kenapa baru sadar sekarang?

Untung banyak karena, totally, saya diberi teman-teman yang sungguh (teramat sangat) baik untuk level orang seperti saya. Saya ingat bagaimana menenangkannya mereka saat saya kesulitan. Bagaimana mereka kerap mengesampingkan kepentingan sendiri untuk membantu saya. Atau bagaimana mereka menasihati, menghibur, bahkan sekadar mendengarkan keluhan panjang lebar, yang sebenarnya tidak penting bagi mereka. What an amazing rizq, Biidznillah! 

What I regret is that I forgot one thing: sudah jadi teman yang cukup baikkah saya? Apa mereka juga mendapatkan kebaikan yang sama dari saya? I really doubt it. Rasanya saya kurang memberi apa yang sepantasnya mereka terima.

I truly love them! 
Mereka yang berkenan mengangkat tangan, memohonkan saya hidayah dan ampunan pada Allah. Yang (semoga) berkenan mencari jika kelak di surga tidak melihat saya.
That’s what friends are for, rite? May Allah reunite us in jannah, aamiin.

Senin, 13 Juli 2020

Telaah Setelah Lelah

Luka Fisik

Dulu, saya pernah bertanya pada seorang ibu yang renta, "Bagaimana rasanya melahirkan berulang kali? Apakah proses melahirkan yang kesekian kali sudah tidak terasa sakit lagi?"

Ia tertawa sambil mengelak. "Tentu tidak. Tetap sakit," katanya. Bahkan, beberapa mengatakan sakitnya melahirkan anak ketiga atau keempat kerap terasa layaknya melahirkan anak pertama: deg-degannya, persiapannya, hingga dera pulihnya. Saya hanya mengiyakan. Tidak punya pengalaman untuk menimpali.


Luka Psikis

Lalu, bagaimana rasanya berpisah dengan orang terkasih berulang kali? Melepas kepergian orang tua, contohnya. Atau suami, atau istri, atau anak. Pada mereka yang sering berduel dengan jarak, kita mungkin berpikir, "Dia sih sudah terbiasa, sejak dulu kan sudah sering berjauhan! Tentu lebih mudah ketimbang mereka yang puluhan tahun terbiasa bersama."

Pada kenyataannya, setiap perpisahan memiliki momentum yang berbeda-beda. Keadaannya berbeda, kesiapannya berbeda, sakitnya pun berbeda. Tidak ada yang lantas menjadi kebal setelah berpisah berulang-ulang. Kita mudah terbiasa pada hal menyenangkan. Tapi, semudah itu pulakah habituasi pada yang tidak disenangi?

Qadarullah. Tak ada satu pun yang berjalan sendiri. Diizinkan untuk tenang bersama lebih lama sepatutnya menjadi tabungan untuk bersyukur lebih banyak pula. Ya, sepatutnya begitu. Ungkapan syukur Nabi Ayyub 'alaihissalam yang merangkulnya pada kesabaran harusnya menggaung di kepala:
Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun. Sakit ini masih derita yang sedikit yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah)

Menghadapi luka pada fisik maupun psikis memang butuh persiapan. Walaupun kita tahu bersiap-siap tidak menjamin kita benar-benar siap.


Mati

Ini baru 'sekadar' luka. Belum mati. Apa kabar persiapan mati? Apakah menghadapi luka membuatmu betah berlama-lama dalam distraksi?


_________

Selasa, 30 Juni 2020

Pillow Thought

O Dear.
You look so tired
with long train of thoughts
while my selfishness keeps searching a dim corner of your heart 
that holds the endless romance of impatience

for me.



The calendar itself, is still scary
while I keep sketching the unfinished route in mind
to deal with the strange habits 

without you.



But you,
you still look tired, O Dear.
Now how can I h̶e̶l̶p̶ hug you?