Tampilkan postingan dengan label Kamar Imaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamar Imaji. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2024

Udara

Ada suatu putaran di mana deringnya memecah hening
Tapi, ia tidak bicara kecuali
menanyakan kabar, yang
ia tahu jawabannya akan selalu sama, karena
ia tidak ingin bertanya 
tidak pula ingin dijawab 

Samar, ia menyiratkan mimpi dan
perih secara simultan yang
entah bagaimana 
menari-nari seperti uap
kopi yang hilang bersama 
dingin 

"Dingin,"
katanya, meminta udara agar berhenti merapuhkan tulangnya
sungguh ironi bahwa mereka menghangatkan kulit sekaligus 
membekukan nadinya

Ia mendayung perahu cepat, berusaha kabur tapi 
tapi,

tapi, 
aku selalu mendengar hening itu
menanyakan kabar
lagi dan lagi.

Kamis, 07 November 2019

Dalam Ruang Sempit (atau Luas?) di Atas

"Jadi, kenapa lagi?"

"Saya takut."

"Karena masa lalumu?"

Ia mengangguk.

"Sudah jera?"

"Tentu. Sayang terlambat. Tidak bisa berbalik. Dan sekarang saya harus berperang melawan sisa-sisa luka yang tak kunjung kering."

"Padahal, dulu kamu tahu itu salah."

"Iya. Iya! Tapi tidak setahu sekarang. Saya dulu bodoh, bodoh. Sekarang pun. Tapi tidak sebodoh dulu."

"Nah. Lebih bodoh, maksudnya?"

"Tidak. Jangan sampai."

"Kalau masih takut, bisa jadi."

"Cukup." Ia menunduk, menutup wajahnya.

"Banyak kebaikan, cinta, pun kesenangan yang sebenarnya terjadi di hadapanmu. Sayang, matamu terlalu sempit untuk melihat ke luar. Sebaliknya, mereka malah melihat ke dalam, pada isi kepalamu yang isinya melulu keburukan. Trauma. Prasangka. Atau apapun itu untuk menyiksa hatimu sendiri.

"Tapi... bagaimana jika semua itu benar?"

"Bagaimana jika tidak? Pada setiap doa yang sepatutnya membuatmu tenang, kamu malah khawatir. Memangnya kamu bersandar pada siapa? Apa tujuanmu? Dunia? Atau yang kelak menjadi kekalmu: akhirat? Kenapa ketakutanmu segala berupa fana? Ke mana imanmu? Sekali lagi, pada siapa kamu bersandar? Dirimu sendiri? Manusia?"

Ia terisak. "Bolehkah saya menyesal... karena memilih ini?"

"Siapa yang memilih ini? Kamu?"

Ia menghela napas.

"Sekuat apapun kamu memilih, tetap saja, kamu sesungguhnya dipilihkan. Tidak ada satupun kejadian yang adalah kehendakmu semata. Ingatlah, semua itu ditentukan. Dan yang menentukan bukan kamu, meski kamu sangat ingin."

"Kadang saya ingin kembali... lalu memilih jalan berbeda."

"Apa jalan berbeda itu lebih baik dari sekarang?"

"Tidak tahu."

"Betul. Belum tentu. Bisa juga lebih buruk, kan?"

Ia mengangguk.

"Maka tidak usah berharap yang aneh-aneh. Kejadian mungkin berulang, tapi umurmu tidak. Kecuali, semua yang sudah terjadi ternyata adalah mimpi."

Ia tertawa. "Mimpi yang panjang sekali."

"Tapi bukan. Ini nyata. Dan inilah yang dipilihkan untukmu. Untuk kamu hadapi, kamu kuasai, atau setidaknya atasi. Untukmu belajar. Meski kamu tak belajar-belajar juga."

Ia menatap sudut kosong sambil menutup separuh wajahnya yang masih basah.

"Ini dunia. Semua, semua akan lewat. Tapi tidak dengan pilihan-pilihan yang kamu buat. Semua akan kamu bawa pada neraca."

"Saya harus bagaimana?"

"Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat."





Rabu, 19 Agustus 2015

Dinding di Atas Kepala

Disusunnya bata itu satu per satu, sambil mengeruk kenangan. Sesekali berhenti ia, menghela oksigen, membukakan celah bagi darahnya yang terhimpit otot. Jantungnya berdetak biasa saja, tanpa tekanan, tanpa emosi.

Dinding itu telah cukup tinggi, pikirnya. Ia kembali ke beranda, menyeruput kopi hitam yang tadinya panas. Awan berjalan lambat -- tapi diperhatikannya segala hal pun begitu. Semut-semut berbaris lambat, air di selokan mengalir lambat, pikirannya.. pikirannya berputar lebih lambat. Lambat ke belakang, kadang diam. Tak sekalipun dihiraunya masa depan.

Dinding itu telah menutup masa depannya.

"Bangun. Ayo bangun!"
Perempuan itu bergeming. Busa keluar dari pucat bibirnya.
"Tidak, tidak. Ayo bangun. Bangun!"
Ia melirik celana kainnya yang penuh darah. Disentuhnya cairan kental itu, yang mengalir dari rahim dan hati.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi, kumohon."
Tidak ada yang menjawab. Tidak pula bergerak. Tidak ada angin yang mengeringkan airmata. Semua celah tertutup dinding.

Ada masa ketika peta itu tergambar jelas: tertawa bersama, bangun tidur bersama, membangun rumah, membesarkan anak, bermain bersama, hidup bahagia, menabung, mati bersama. Apa yang terjadi di tengah jalan?

"Kau membenciku."
"Aku tidak benci. Aku marah."
"Marah kenapa?"

Ia sendiri lupa mengapa ia begitu marah. Ubun-ubunnya penuh emosi tatkala itu, tak cukup ruang untuk menyimpan memori.

"Kau mau sendiri. Tapi lalu ada aku."

Ia menggeleng. Ia tidak mau sendiri. Siapa yang mau?

Kepalanya masih berputar lambat. Dinding ini dirasanya cukup untuk menyelimuti sisa hidupnya yang kelu. Satu tubuh perempuan dan satu embrio terbaring di bawah luas halaman di depannya. Setidaknya kita masih bersama.

"Ya, kau benar. Aku tidak bisa sendiri. Meski pada akhirnya, kita semua mati sendiri."

Tidak ada kopi senikmat itu. Yang bisa kau nikmati dalam dinding kuburmu sendiri, tepat di atas kepalamu, bersama mereka yang kau cintai.

Sabtu, 07 Februari 2015

Ceritanya Panjang

"Maaf, saya terlambat." katanya.

"Tidak masalah," kataku, "saya juga baru tiba."

"Tapi kopimu tinggal sedikit."

"Eh, itu... tadi saya kehausan."

"Tambah lagi ya?"

"Tidak, tidak. Ini cukup, kok."

"Ada acara apa?"

"Bukan acara. Saya hanya ingin bicara."

"Baiklah, silakan."

"Saya tidak tahu harus mulai dari mana... begini saja. Singkatnya, saya ingin keluar dari sini."

"Sini?"

"Maksudku, ruang ini. Dunia ini. Kandang ini. Atau apapun namanya ini."

Dia tertawa. "Kenapa? Sudah mulai merasa sempit?"

"Sempit?" Saya balik bertanya. "Saya sesak!"

"Ssst, jangan berteriak."

"Maaf." kataku. Orang-orang memang mulai memandangi kami.

"Kalau sesak, oksigen yang kamu perlu. Bukan kabur."

"Di luar kan banyak udara."

"Di luar juga banyak penyakit."

"Tidak apa, saya sudah sakit."

"Saya tidak mau sakitmu kian parah."

Saya mulai terisak.

"Hidupmu masih panjang," katanya, "tugasmu masih banyak."

"Saya sudah gagal."

"Bagaimana bisa? Kamu bahkan belum sampai level medium."

"Itulah. Saya takut."

"Kamu macam tak berTuhan saja."

Saya terdiam.

"Ya ampun. Kamu putus asa?"

Saya kian bungkam.

"Serius?"

"Bukan begitu! Di depan saya... semua gelap!"

Dia menggenggam tanganku. Saya kembali terisak.

"Bukankah manusia butuh gelap, agar bisa tidur lelap?"

"Tapi..."

"Sayang, dukamu itu adalah obat. Kalau sakit, kamu butuh istirahat. Jeda. Tidur. Tidur!"

"Saya..."

"Kembalilah. Kembalilah ke tempat sujudmu. Tempat kamu biasa tidur nyenyak."

Saya terisak.

"Tugasmu belum selesai. Kuat kuatlah dulu. Istirahat. Tidur."

Saya masih terisak.

"Kamu tidak sakit. Tidak juga buta. Kamu hanya mengantuk.

"Sesimpel itu?"

"Ya. Serumit itu."

Dia lalu menarikku ke dalam peluknya. Saya menangis sejadinya hingga tertidur.
Saat bangun, saya memandang kursi kosong di depan saya dengan sedikit senyum. Saya memanggil pelayan.

"Berapa?"

"Satu kopi hitam, totalnya dua puluh ribu. Seperti biasa."

Saya mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu. "Simpan  saja kembalinya."

"Terima kasih," jawabnya. "Maaf, kalau boleh saran, janganlah minum kopi jika sedang mengantuk. Mungkin Anda memang butuh tidur."

Saya tersenyum. "Iya, maaf sudah merepotkan."

"Tidak apa, kok. Kafe kami juga belum akan tutup. Maaf lagi, sesekali ajaklah teman. Jangan ngopi sendirian, biar tidak ketiduran. Biar kafe juga tambah ramai."

Saya tertawa. "Baiklah."

Pelayan itu merapikan meja di sudut yang sepertinya hanya punya satu peminat. Dia tahu pasti, besok besok saya akan tetap datang sendiri.

Kamis, 05 Februari 2015

Februari Ini

Siapa yang memintamu berharap?
Kini tertimbun kamu di dasar ekspektasi hampa udara. Kamu pikir obat masih tersedia, lalu menyepelekan sakit?

Di sana kamu memutihkan dosa, mengampuni cinta, meminta-minta pada punggung yang tak kunjung berbalik. Ingatlah, ada denting yang meminta dipedulikan, wahai Pelupa Waktu!

Yang kamu dengar bukan lagu, bukan. Tak juga tangisan. Februari ini, tak ada perayaan bagi duka, pun penghargaan bagi suka. Sadarlah, ini waktunya tidur.


Jika kamu tidak bahagia, jangan menunggu lagi.
Bahagiakan dirimu sendiri.

Kamis, 02 Oktober 2014

Lima Menit

Kamu bicara tentang luka,
aku memeluk redup
Di mana kita, asa berbuih melenyap senyap
Cerita kita di telepon, di kafe, di mobil, di kerumunan pedagang pasar
kudengar semua hingga lelap
Tapi selalu ada yang tak kamu cerita
selalu ada yang tak kudengar
dari ribut-ribut sepanjang silsilah
pun doa yang kamu bisikkan pelan.

Di sini, dalam lima menit sisa waktu menulismu
Tak apa, biar tangis selimuti dingin-dingin, dalam sela yang bukan sejarah
bukan juga masa depan.

Aku sahabatmu. Selalu.

Selasa, 02 September 2014

Matahari dan 12 Kura-kura

Kamu lihat rumah kecil di kaki gunung sana?




Di sana, tinggal seorang lelaki tua bersama 13 kura-kuranya. Ramai, tapi sunyi. Sesenyap lelaki tua itu sendiri.

Di antara ketiga belas kura-kura, ada satu yang paling tua ketimbang lainnya. Usianya hampir setengah abad. Heosemys spinosa, jenisnya. Berasal dari hutan hujan di Kalimantan, yang tempurungnya bergerigi menyerupai gambar matahari yang dibuat anak-anak. Mungkin karena itu ia dijuluki kura-kura matahari.

Tidak seperti kedua belas lainnya yang punya nama – Dum, Flick, Mino, Bo, Ning, Koro, Nambo, Kong, Blu, Mori, Simba dan Poka – kura-kura matahari ini tidak diberi nama. Si lelaki tetap memanggilnya ‘Matahari’, itu saja. Tapi, dibanding lainnya, ia pula yang paling cerdas. Tidak pernah memakan buah yang bukan jatahnya, mandi dan buang air pada tempatnya, dan datang jika dipanggil. Pernah juga, Matahari dilepas ke luar rumah, ia berjalan pulang kembali.

Suatu ketika, lelaki tua itu berinisiatif membuat sebuah kandang luas di belakang rumahnya. Kura-kuranya akan semakin besar, pikirnya, rumah kecilnya tak akan muat. Dengan tubuhnya yang kian renta, ia tidak boleh menunda-nunda lagi. Maka dihabiskannya 24 hari untuk memaku, menyusun batu dan bambu, menata tumbuh-tumbuhan rindang, hingga jadilah sebuah taman luas untuk para kura-kura bermain.

Di suatu Sabtu yang sejuk, dilepaskannya mereka di sana. Layaknya rindu alam bebas, semua kura-kura langsung berlari riang memakan rerumputan. Semua, kecuali Matahari. Ia hanya diam di sudut, menatap lelaki itu, lalu menyembunyikan badannya di balik pohon.

“Hei, kenapa?” tanya lelaki itu. “Tenang saja, kau akan terbiasa di luar sini.”

Matahari bergeming, kepalanya ditarik ke dalam tempurung.

“Bukankah begini memang seharusnya tempatmu?” lanjut lelaki itu, “Penuh tumbuhan dan udara bebas. Bukan di dalam rumah yang pengap.”

Matahari mendongak sejenak.

“Nah.” Kata lelaki itu sambil berdiri, “Sekarang tugasmulah membantuku mengawasi yang lain. Jangan sampai mereka kabur. Karena tidak sepertimu, mereka tidak tahu jalan pulang.”

Maka dengan puas beranjaklah lelaki itu meninggalkan mereka, untuk beristirahat di ranjang bambu dalam kamar sempitnya.


Saat pagi datang, ia tercengang. Matahari hilang! Segera, setiap sudut kandang diperiksanya. Pun, di balik pepohonan dan bebatuan. Nihil. Tidak pula ada pecahan karapas atau bagian tubuh yang lain. Menegaskan padanya: Matahari tidak diserang hewan liar, bukan. Tapi kabur.

Ia putuskan mencari lebih jauh. Berkeliling ia mulai dari sekitar rumahnya, lalu ke area persawahan, dan akhirnya mencoba merintis jauh ke dalam hutan. Dari pagi hingga pagi lagi, tak ada tanda hewan kecil itu. Hingga badannya melemah dan menyadari pencariannya sia-sia.

Perlahan runtuhan kecewa mengaliri darahnya. Kura-kura yang bersamanya puluhan tahun, dirawatnya selayak anak sendiri, dilatihnya hingga cerdas, hilang dalam semalam. Yang lebih menyakitkannya adalah fakta bahwa Matahari pergi dengan keinginan sendiri – dengan akal yang tidak dimiliki kura-kura lain. Dadanya terasa dihantam: inilah rasanya terkhianati. Lagi.


Imajinya terbang ke puluhan tahun lalu, saat hidup masih ramai. Seperti baru kemarin saja, ia mendapati sang kekasih berkhianat. Tidak itu saja, pelan-pelan hidup seperti mengulum hatinya yang tersisa. Satu per satu mereka pergi: teman, tetangga, hingga keluarga. Ada yang salah dengan hidupnya, pikirnya. Segala yang mampu berbicara tampaknya hanya bisa mencerca, memprotes. Jengah ia pada pertengkaran yang riuh, atau kebohongan yang menampar. Itulah awal ia menghindari manusia dan memilih menasbihkan hidup pada teman-teman melatanya, kura-kura. Hewan yang sunyi, tak banyak menuntut, dan berumur panjang – jadi bisa menemaninya hingga mati.

Tapi ternyata, Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkannya tentang sakit. Tak peduli lewat manusia atau hewan.

***

Puluhan tahun berlalu, lelaki tua itu masih menghabiskan senja bersama kedua belas kura-kura yang tersisa. Bedanya, ia tak lagi marah atau kecewa. Hanya berharap ia, agar semua yang meninggalkannya lebih bahagia tanpanya. Kekasih, teman, keluarga… terutama Matahari. Semoga ia cukup makan dan tak jadi santapan anjing liar.

Hari ini ulang tahunnya ke-80. Dua belas kura-kura dikumpulkannya di ruang tamu, berhimpit dalam sempit. Ia mengucap doa, bukan meminta, tapi bersyukur. Telah diberikan ia damai meski sendiri, tenang meski tak terang, bahagia meski tak kaya. Saat hendak dikembalikannya para kura-kura ke taman belakang, matanya tertumpu pada satu sosok di atas rerumputan. Ukurannya lebih besar dua kali lipat dibanding terakhir kali dilihatnya. Dari matanya yang hitam bulat, bisa ia lihat rindu:

Matahari.


“Masuklah,” ujarnya sambil menghela napas, “kau boleh tinggal di dalam rumah.”




Kamis, 28 November 2013

Move On












Di sana, jauh di sudut laci mejamu
terlipat juga secarik kenangan
sedang ratusan fabel telah kau tulis untuk melupa

                        
                         Bakar, bakar

                         Apa lagi yang kau tunggu?


Ah, sering kau lupa
tubuhmu sudah penuh luka.

Sabtu, 07 September 2013

Laron

Ketika maghrib menjelang, mereka menutup semua pintu, mematikan semua cahaya, mendinginkan semua panas, lalu berdiam diri.

Perlahan tapi pasti, makhluk-makhluk kecil bersayap itu mendatangi satu-satunya lentera yang mereka biarkan menyala di halaman belakang. Sinar itu tak benderang, tapi menjadi sonar pemikat hampir ribuan laron-laron yang diam-diam membuat dinasti di sekitar pondok mereka di lembah.

Dalam gelap, mereka mencinta.

Dalam gelap, mereka marah.

Dalam gelap, mereka takut sendiri.

Maka kulit-kulit mereka harus selalu bersentuhan untuk memastikan satu sama lain masih tetap di sana, meski marah, meski malas, apalagi mencinta -- demi sebuah rasa aman bahwa mereka masing-masing... tidak sendiri.

Ketika adzan isya berkumandang, laron-laron itu mulai goyah. Satu per satu sayap mereka patah. Jatuhlah mereka ke tanah. Saatnya hidup kembali bersuara. Malam kembali terang. Terus begitu, dalam lingkaran rutinitas waktu.

Suatu hari, laron-laron itu tidak datang. Yang satu berpikir, mungkin para laron sedang bermutasi, atau masih dalam masa inkubasi. Entahlah, yang lain bahkan tidak mau tahu kenapa. Yang penting mereka tidak lagi terusik kedatangan pengganggu kecil yang beterbangan di mana-mana, itu sudah cukup.

Tapi ada yang aneh. Ganjil. Semua lampion memang bisa menyala bebas tanpa serangan liar. Maka tak lagi ada gelap yang memaksa mereka lekat. Maka sibuklah mereka dengan ruang sendiri-sendiri, tidak dilanda takut gelap, tidak butuh teman. Tapi juga tidak ada alasan untuk saling bersandar, atau sekedar merasakan detak jantung satu sama lain untuk mensyukuri hidup. Tidak ada alasan untuk memeluk -- kalah oleh segan.

Mendadak mereka rindu laron-laron itu. Diam-diam mereka berharap diganggu.
Dalam doa yang senyap, mereka pun meminta alam memanggil laron kembali.

Senja ini, ribuan kepakan bising itu kembali. Mereka terkejut melihat serangga-serangga itu, tapi tidak ada yang mengalahkan terkejutnya mereka melihat wajah satu sama lain -- yang sama bergejolak bahagia!
Mereka lalu sadar: ternyata mereka saling rindu.

Dalam marah, dalam bosan, dalam senang, mereka selalu merindu.

Malam itu laron-laron berpesta bersama sepasang manusia itu. Energi berpendar dari dalam pondok; energi yang jauh lebih hangat ketimbang api lentera satu-satunya di halaman belakang.

Sabtu, 15 Desember 2012

Kamu, yang Tak Pernah Selesai

Mungkin kamu marah jika saya jujur:
kamu bodoh.
Selalu saja kamu tergila-gila pada perempuan yang salah. Ingat saja pacar pertamamu yang pergi setelah tahu kamu tidak kaya-kaya amat. Atau, gadis yang baru saja kamu dapati mengecup hangat sahabat kental yang kamu juluki soulmate itu.
Kamu pun tak punya selera.
Musik, film, buku, fashion -- tidak, tidak ada. Arus, adalah identitasmu yang terus berubah.

Tapi kamu baik. Sungguh.
Kamu punya sepasang tangan yang tulus memberi segala yang kemudian kamu lupakan. Dan matamu, yang turut berbinar saat memastikanku senang. Kamu adalah orang yang pertama kali siaga saat larut malam saya jatuh sakit.
Dan sejauh yang kuingat, kamu cukup sabar menunggu saya.

Saya, yang dalam waktu yang sama,
sedang menunggu dia.
Saya masih ingat caramu memandang ketika dia datang, dan merampas semua waktu yang tadinya luang untuk kamu ganggu. Juga, kamu yang tetap betah berjam-jam mendengarku memujinya. Semua yang saya kira cinta, mulai dan berakhir di depanmu.
Kamu, selalu ada ketika bahagiaku menemui ujung.

Sampai di suatu malam, saat kamu dan saya sedang terhempas bersama,
menertawai kesialan atas kisah cinta yang tak kunjung sukses, kamu menawarkan sebuah harga:
Persahabatan ini, dengan mengubah sejumlah sudut pandang tertentu, bisa menjadi cinta, katamu.
Saya sungguh-sungguh terkejut -- termasuk terkejut dengan reaksi saya sendiri yang turut percaya.
Malam itu kita habiskan dengan saling menggenggam, berkeliling kota, sangat mabuk, terus berpeluk. Tapi, separuh sadar kita tahu, pelukan sudah cukup.

Kita berhenti di situ, malam itu juga.

Waktu, jarak, kehidupan sosial, cinta, kebanggan material, membuatmu terus berkembang dan dengan naturalnya, menjauh. Pun, saya bagimu. Ketika bertemu terakhir kali, kemarin pagi, saat menunggu bus menuju kantor, kukira bermimpi mendengar suaramu.
Ternyata benar kamu, melihatku dengan tersenyum, menarik tangan seorang perempuan. Istriku, katamu. Tidak lagi ada ucapmu yang sungguh kusimak setelahnya.

Telah kuhabiskan berlembar kertas dan bergigabyte file untuk menyusun akhir yang tepat bagi sejarah tentangmu. Seluruh dunia tahu sedalam apa arti saya untukmu. Seluruh dunia, kecuali saya.

Mungkin kamu kecewa jika saya jujur:
saya tidak mencintaimu.
Atau, belum.
Karena semua perahu yang membawa rumus tentangmu, tak pernah sampai di tepi.
Semua buku yang berjudul namamu, tak punya bab akhir.
Kamu, adalah tulisanku yang tak pernah selesai.

Maka, ketika itu kamu me


Sabtu, 03 November 2012

Kelakar

Saya tahu, kamu sedang disibukkan dengan angka-angka di layarmu
dan aku, sedang menyibukkan diri dengan huruf-huruf di bukuku
Kita tahu, tidak ada kewajiban memang buat mencinta
apalagi memprogramkannya pada daftar di dalam doa

yang tidak kita tahu adalah mengapa
kita pulang setiap malam ke rumah yang sama
mengatur jadwal yang seragam tiap akhir pekan tiba
berbusana sewarna ke setiap pesta

Pun, tak kita setujui,
secantum kata paksa di KBBI mampu mendefinisi

Tapi tak sekalipun kudengar kamu berniat lari
atau tetangga mencaci
atau iblis menggurui
atau Tuhan memusuhi

Kamu membisikkan cinta,
yang kudengar sebagai kelakar.


Perempuan itu lalu tertawa, dengan suara melengking dan menggaung sendiri.

"Opera ini tak lucu!" kata seorang penonton.
Sebelum berbalik pulang, mereka lempari panggung itu dengan botol-botol aqua
dan sobekan tiket renta.

Rabu, 17 Oktober 2012

Klub Anti Hujan


Entah kapan aku bisa mencintai hujan. Lima belas menit yang lalu, usai pertemuan denganmu, hujan tiba-tiba mendera di tengah perjalanan. Bencinya aku minta ampun. Mereka berhasil membungkus kenangan tentangmu, yang baru saja berlalu. Sialnya, entah kapan lagi waktumu bisa kunikmati. Ribuan kutukan pun kukirimkan pada titik-titik yang membuatku setengah mati merindukan beberapa menit yang lalu itu. Mengapa mereka tak bisa berkompromi?

Entah sejak kapan aku mulai membenci hujan. Sejak lahir, mungkin, ya. Beberapa alasan yang cukup logis tepatnya seperti ini:

  1. Mereka layaknya kelompok penyanyi yang punya terlalu banyak penggemar. Semenit yang lalu, notifikasi media sosialku dipenuhi oleh pemujaan terhadapnya!
  2. Mereka kadang sembunyi terlalu lama di balik mendung, hanya agar dirindukan. Aku tahu trik itu.
  3. Mereka punya semacam hipnotis memabukkan. Lebih parah dari alkohol.
  4. Mereka juga punya rol-rol film masa lalu kita, lalu mereka proyeksikan seenaknya saat menyentuh tanah. 

Selain itu, aku sungguh dirugikan. Semua topengku, yang jerih payah kuukir, meluntur mudah dengan gravitasinya.


Entah kapan aku bisa mencintai hujan. Mungkin nanti, ketika mereka telah membuat kesepakatan denganmu, untuk selalu datang bersamaan. Semua bisa butuh penawar, kan?

Selasa, 09 Oktober 2012

A Monochrome Prologue



It was Saturday night. John and I were going to ride.
We talked about many things. Maybe everything.

John was so scared. He was afraid of the unknowns. Just like a child afraid of nightmares. He couldn't touch it, nor see it. But somehow, he could feel it. Cold into his bones. Sharp needles through his brain.
He was broken and frozen.

John looked out over the window. Nothing changed; the sky, trees, and several thunderbolts. He closed his eyes deeply, deeper. Ran to the kitchen, said this repeatedly over and over:

"Est omnia illusio! Est omnia illusio!"

I said, John, I would go.He said, I know. And I said, you could go with me. He said, no, I'd rather stay.

He is late, late, I know. But I can feel him in my hereafter. I kiss him while he's dying - and me, myself, is reborn.



Born to kill the pasts: us.

Senin, 24 September 2012

Jam Makan Siang



Bercangkir-cangkir espresso telah kita habiskan untuk menjamin salah satu dari kita tidak beranjak. Kau, juga aku, sama-sama punya kesibukan lain yang mengejar. Tapi apa ini? Kau dan aku terduduk tenang, kadang saling memandang, meneguk ratusan bujukan kafein yang menendang.

Segala ribut-ribut itu hanya di hati.
Di sini, hembusan nafas dan lantunan sayup suara Sarah Vaughan yang jadi juara. Selebihnya, dua orang yang memaku terus diam, takut jika sedikit kata saja bisa merusak segalanya. Kita kehilangan arah, kehilangan awal, hingga akhir pun tak terdeteksi.

Mungkin terbebani dengan paradigma bahwa laki-lakilah yang harus memulai duluan, kau berinisiatif memulai kata.
"Bagaimana harimu?"

"Entahlah. Belum berakhir." jawabku.

"Sejauh ini, maksudku." kau berusaha tersenyum.

"Cukup baik. Kamu?"

Mungkin menyadari aku hanya berbasa-basi, kau balik bertanya.

"Kenapa kamu tidak pernah menjawab teleponku?"

Aku diam.

"Email? SMS? Chat?"

Diam lagi. Kita tahu suasana telah rusak. Aku tahu sekarang tak lagi bisa lari. Kamu tahu, cara termudah memberbaiki ini adalah berhenti bertanya.

"Sudahlah. Tidak apa."

Terkadang, sulitnya menjawab menjadi jawaban yang sesungguhnya.  Kita punya pilihan. Pilihanku adalah untuk membuatmu tetap sempurna di sini, di simulakrum ini, tanpa menyentuh nyata yang mungkin mengeliminasi kau yang sebenarnya. Nyata pun kadang palsu, kan?

Di sini, dalam waktu singkat makan siang, kita mencari sisa celah untuk kelak dibungkus rapi. Beberapa jam kemudian, kau akan duduk di pesawatmu dan aku di meja kerjaku. Kau akan terjebak macet dan aku akan pulang dalam sepi. Kau akan... entahlah. Menikmatimu di sini tidak akan kurusak dengan segala nanti-nanti.

Bagaimana pun, kau, adalah satu-satunya senyawa yang mengubah kafeinku menjadi detak jantung.

Sampai bertemu lagi, Mimpi.

Jumat, 07 September 2012

Penuh




Aku mencari titik yang kosong di antara detik huruf-hurufmu

Kamu serahkan jadwal, nomor ponsel. serta nota

Bisakah kita membeli kesempatan?
tanyaku.

Bisakah kita membeli mesin waktu?
kamu balik bertanya.

Karena penuh telah menghabiskan jatahmu
untuk memikirkanku
yang semakin kecil, terus mengecil
dalam rongga yang sesak
di tumpukan buku jurnalmu.