Selasa, 12 November 2024
Udara
Kamis, 07 November 2019
Dalam Ruang Sempit (atau Luas?) di Atas
"Saya takut."
"Karena masa lalumu?"
Ia mengangguk.
"Sudah jera?"
"Tentu. Sayang terlambat. Tidak bisa berbalik. Dan sekarang saya harus berperang melawan sisa-sisa luka yang tak kunjung kering."
"Padahal, dulu kamu tahu itu salah."
"Iya. Iya! Tapi tidak setahu sekarang. Saya dulu bodoh, bodoh. Sekarang pun. Tapi tidak sebodoh dulu."
"Nah. Lebih bodoh, maksudnya?"
"Tidak. Jangan sampai."
"Kalau masih takut, bisa jadi."
"Cukup." Ia menunduk, menutup wajahnya.
"Banyak kebaikan, cinta, pun kesenangan yang sebenarnya terjadi di hadapanmu. Sayang, matamu terlalu sempit untuk melihat ke luar. Sebaliknya, mereka malah melihat ke dalam, pada isi kepalamu yang isinya melulu keburukan. Trauma. Prasangka. Atau apapun itu untuk menyiksa hatimu sendiri.
"Tapi... bagaimana jika semua itu benar?"
"Bagaimana jika tidak? Pada setiap doa yang sepatutnya membuatmu tenang, kamu malah khawatir. Memangnya kamu bersandar pada siapa? Apa tujuanmu? Dunia? Atau yang kelak menjadi kekalmu: akhirat? Kenapa ketakutanmu segala berupa fana? Ke mana imanmu? Sekali lagi, pada siapa kamu bersandar? Dirimu sendiri? Manusia?"
Ia terisak. "Bolehkah saya menyesal... karena memilih ini?"
"Siapa yang memilih ini? Kamu?"
Ia menghela napas.
"Sekuat apapun kamu memilih, tetap saja, kamu sesungguhnya dipilihkan. Tidak ada satupun kejadian yang adalah kehendakmu semata. Ingatlah, semua itu ditentukan. Dan yang menentukan bukan kamu, meski kamu sangat ingin."
"Kadang saya ingin kembali... lalu memilih jalan berbeda."
"Apa jalan berbeda itu lebih baik dari sekarang?"
"Tidak tahu."
"Betul. Belum tentu. Bisa juga lebih buruk, kan?"
Ia mengangguk.
"Maka tidak usah berharap yang aneh-aneh. Kejadian mungkin berulang, tapi umurmu tidak. Kecuali, semua yang sudah terjadi ternyata adalah mimpi."
Ia tertawa. "Mimpi yang panjang sekali."
"Tapi bukan. Ini nyata. Dan inilah yang dipilihkan untukmu. Untuk kamu hadapi, kamu kuasai, atau setidaknya atasi. Untukmu belajar. Meski kamu tak belajar-belajar juga."
Ia menatap sudut kosong sambil menutup separuh wajahnya yang masih basah.
"Ini dunia. Semua, semua akan lewat. Tapi tidak dengan pilihan-pilihan yang kamu buat. Semua akan kamu bawa pada neraca."
"Saya harus bagaimana?"
"Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat."
Rabu, 19 Agustus 2015
Dinding di Atas Kepala
Disusunnya bata itu satu per satu, sambil mengeruk kenangan. Sesekali berhenti ia, menghela oksigen, membukakan celah bagi darahnya yang terhimpit otot. Jantungnya berdetak biasa saja, tanpa tekanan, tanpa emosi.
Dinding itu telah cukup tinggi, pikirnya. Ia kembali ke beranda, menyeruput kopi hitam yang tadinya panas. Awan berjalan lambat -- tapi diperhatikannya segala hal pun begitu. Semut-semut berbaris lambat, air di selokan mengalir lambat, pikirannya.. pikirannya berputar lebih lambat. Lambat ke belakang, kadang diam. Tak sekalipun dihiraunya masa depan.
Dinding itu telah menutup masa depannya.
"Bangun. Ayo bangun!"
Perempuan itu bergeming. Busa keluar dari pucat bibirnya.
"Tidak, tidak. Ayo bangun. Bangun!"
Ia melirik celana kainnya yang penuh darah. Disentuhnya cairan kental itu, yang mengalir dari rahim dan hati.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi, kumohon."
Tidak ada yang menjawab. Tidak pula bergerak. Tidak ada angin yang mengeringkan airmata. Semua celah tertutup dinding.
Ada masa ketika peta itu tergambar jelas: tertawa bersama, bangun tidur bersama, membangun rumah, membesarkan anak, bermain bersama, hidup bahagia, menabung, mati bersama. Apa yang terjadi di tengah jalan?
"Kau membenciku."
"Aku tidak benci. Aku marah."
"Marah kenapa?"
Ia sendiri lupa mengapa ia begitu marah. Ubun-ubunnya penuh emosi tatkala itu, tak cukup ruang untuk menyimpan memori.
"Kau mau sendiri. Tapi lalu ada aku."
Ia menggeleng. Ia tidak mau sendiri. Siapa yang mau?
Kepalanya masih berputar lambat. Dinding ini dirasanya cukup untuk menyelimuti sisa hidupnya yang kelu. Satu tubuh perempuan dan satu embrio terbaring di bawah luas halaman di depannya. Setidaknya kita masih bersama.
"Ya, kau benar. Aku tidak bisa sendiri. Meski pada akhirnya, kita semua mati sendiri."
Tidak ada kopi senikmat itu. Yang bisa kau nikmati dalam dinding kuburmu sendiri, tepat di atas kepalamu, bersama mereka yang kau cintai.
Sabtu, 07 Februari 2015
Ceritanya Panjang
"Maaf, saya terlambat." katanya.
"Tidak masalah," kataku, "saya juga baru tiba."
"Tapi kopimu tinggal sedikit."
"Eh, itu... tadi saya kehausan."
"Tambah lagi ya?"
"Tidak, tidak. Ini cukup, kok."
"Ada acara apa?"
"Bukan acara. Saya hanya ingin bicara."
"Baiklah, silakan."
"Saya tidak tahu harus mulai dari mana... begini saja. Singkatnya, saya ingin keluar dari sini."
"Sini?"
"Maksudku, ruang ini. Dunia ini. Kandang ini. Atau apapun namanya ini."
Dia tertawa. "Kenapa? Sudah mulai merasa sempit?"
"Sempit?" Saya balik bertanya. "Saya sesak!"
"Ssst, jangan berteriak."
"Maaf." kataku. Orang-orang memang mulai memandangi kami.
"Kalau sesak, oksigen yang kamu perlu. Bukan kabur."
"Di luar kan banyak udara."
"Di luar juga banyak penyakit."
"Tidak apa, saya sudah sakit."
"Saya tidak mau sakitmu kian parah."
Saya mulai terisak.
"Hidupmu masih panjang," katanya, "tugasmu masih banyak."
"Saya sudah gagal."
"Bagaimana bisa? Kamu bahkan belum sampai level medium."
"Itulah. Saya takut."
"Kamu macam tak berTuhan saja."
Saya terdiam.
"Ya ampun. Kamu putus asa?"
Saya kian bungkam.
"Serius?"
"Bukan begitu! Di depan saya... semua gelap!"
Dia menggenggam tanganku. Saya kembali terisak.
"Bukankah manusia butuh gelap, agar bisa tidur lelap?"
"Tapi..."
"Sayang, dukamu itu adalah obat. Kalau sakit, kamu butuh istirahat. Jeda. Tidur. Tidur!"
"Saya..."
"Kembalilah. Kembalilah ke tempat sujudmu. Tempat kamu biasa tidur nyenyak."
Saya terisak.
"Tugasmu belum selesai. Kuat kuatlah dulu. Istirahat. Tidur."
Saya masih terisak.
"Kamu tidak sakit. Tidak juga buta. Kamu hanya mengantuk.
"Sesimpel itu?"
"Ya. Serumit itu."
Dia lalu menarikku ke dalam peluknya. Saya menangis sejadinya hingga tertidur.
Saat bangun, saya memandang kursi kosong di depan saya dengan sedikit senyum. Saya memanggil pelayan.
"Berapa?"
"Satu kopi hitam, totalnya dua puluh ribu. Seperti biasa."
Saya mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu. "Simpan saja kembalinya."
"Terima kasih," jawabnya. "Maaf, kalau boleh saran, janganlah minum kopi jika sedang mengantuk. Mungkin Anda memang butuh tidur."
Saya tersenyum. "Iya, maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa, kok. Kafe kami juga belum akan tutup. Maaf lagi, sesekali ajaklah teman. Jangan ngopi sendirian, biar tidak ketiduran. Biar kafe juga tambah ramai."
Saya tertawa. "Baiklah."
Pelayan itu merapikan meja di sudut yang sepertinya hanya punya satu peminat. Dia tahu pasti, besok besok saya akan tetap datang sendiri.
Kamis, 05 Februari 2015
Februari Ini
Siapa yang memintamu berharap?
Kini tertimbun kamu di dasar ekspektasi hampa udara. Kamu pikir obat masih tersedia, lalu menyepelekan sakit?
Di sana kamu memutihkan dosa, mengampuni cinta, meminta-minta pada punggung yang tak kunjung berbalik. Ingatlah, ada denting yang meminta dipedulikan, wahai Pelupa Waktu!
Yang kamu dengar bukan lagu, bukan. Tak juga tangisan. Februari ini, tak ada perayaan bagi duka, pun penghargaan bagi suka. Sadarlah, ini waktunya tidur.
Jika kamu tidak bahagia, jangan menunggu lagi.
Bahagiakan dirimu sendiri.
Kamis, 02 Oktober 2014
Lima Menit
Kamu bicara tentang luka,
aku memeluk redup
Di mana kita, asa berbuih melenyap senyap
Cerita kita di telepon, di kafe, di mobil, di kerumunan pedagang pasar
kudengar semua hingga lelap
Tapi selalu ada yang tak kamu cerita
selalu ada yang tak kudengar
dari ribut-ribut sepanjang silsilah
pun doa yang kamu bisikkan pelan.
Di sini, dalam lima menit sisa waktu menulismu
Tak apa, biar tangis selimuti dingin-dingin, dalam sela yang bukan sejarah
bukan juga masa depan.
Aku sahabatmu. Selalu.
Selasa, 02 September 2014
Matahari dan 12 Kura-kura
Kamis, 28 November 2013
Move On
Di sana, jauh di sudut laci mejamu
terlipat juga secarik kenangan
sedang ratusan fabel telah kau tulis untuk melupa
Ah, sering kau lupa
tubuhmu sudah penuh luka.
Sabtu, 07 September 2013
Laron
Perlahan tapi pasti, makhluk-makhluk kecil bersayap itu mendatangi satu-satunya lentera yang mereka biarkan menyala di halaman belakang. Sinar itu tak benderang, tapi menjadi sonar pemikat hampir ribuan laron-laron yang diam-diam membuat dinasti di sekitar pondok mereka di lembah.
Ketika adzan isya berkumandang, laron-laron itu mulai goyah. Satu per satu sayap mereka patah. Jatuhlah mereka ke tanah. Saatnya hidup kembali bersuara. Malam kembali terang. Terus begitu, dalam lingkaran rutinitas waktu.
Suatu hari, laron-laron itu tidak datang. Yang satu berpikir, mungkin para laron sedang bermutasi, atau masih dalam masa inkubasi. Entahlah, yang lain bahkan tidak mau tahu kenapa. Yang penting mereka tidak lagi terusik kedatangan pengganggu kecil yang beterbangan di mana-mana, itu sudah cukup.
Tapi ada yang aneh. Ganjil. Semua lampion memang bisa menyala bebas tanpa serangan liar. Maka tak lagi ada gelap yang memaksa mereka lekat. Maka sibuklah mereka dengan ruang sendiri-sendiri, tidak dilanda takut gelap, tidak butuh teman. Tapi juga tidak ada alasan untuk saling bersandar, atau sekedar merasakan detak jantung satu sama lain untuk mensyukuri hidup. Tidak ada alasan untuk memeluk -- kalah oleh segan.
Mendadak mereka rindu laron-laron itu. Diam-diam mereka berharap diganggu.
Dalam doa yang senyap, mereka pun meminta alam memanggil laron kembali.
Senja ini, ribuan kepakan bising itu kembali. Mereka terkejut melihat serangga-serangga itu, tapi tidak ada yang mengalahkan terkejutnya mereka melihat wajah satu sama lain -- yang sama bergejolak bahagia!
Mereka lalu sadar: ternyata mereka saling rindu.
Dalam marah, dalam bosan, dalam senang, mereka selalu merindu.
Malam itu laron-laron berpesta bersama sepasang manusia itu. Energi berpendar dari dalam pondok; energi yang jauh lebih hangat ketimbang api lentera satu-satunya di halaman belakang.
Sabtu, 15 Desember 2012
Kamu, yang Tak Pernah Selesai
kamu bodoh.
Selalu saja kamu tergila-gila pada perempuan yang salah. Ingat saja pacar pertamamu yang pergi setelah tahu kamu tidak kaya-kaya amat. Atau, gadis yang baru saja kamu dapati mengecup hangat sahabat kental yang kamu juluki soulmate itu.
Kamu pun tak punya selera.
Musik, film, buku, fashion -- tidak, tidak ada. Arus, adalah identitasmu yang terus berubah.
Tapi kamu baik. Sungguh.
Kamu punya sepasang tangan yang tulus memberi segala yang kemudian kamu lupakan. Dan matamu, yang turut berbinar saat memastikanku senang. Kamu adalah orang yang pertama kali siaga saat larut malam saya jatuh sakit.
Dan sejauh yang kuingat, kamu cukup sabar menunggu saya.
Saya, yang dalam waktu yang sama,
sedang menunggu dia.
Saya masih ingat caramu memandang ketika dia datang, dan merampas semua waktu yang tadinya luang untuk kamu ganggu. Juga, kamu yang tetap betah berjam-jam mendengarku memujinya. Semua yang saya kira cinta, mulai dan berakhir di depanmu.
Kamu, selalu ada ketika bahagiaku menemui ujung.
Sampai di suatu malam, saat kamu dan saya sedang terhempas bersama,
menertawai kesialan atas kisah cinta yang tak kunjung sukses, kamu menawarkan sebuah harga:
Persahabatan ini, dengan mengubah sejumlah sudut pandang tertentu, bisa menjadi cinta, katamu.
Saya sungguh-sungguh terkejut -- termasuk terkejut dengan reaksi saya sendiri yang turut percaya.
Malam itu kita habiskan dengan saling menggenggam, berkeliling kota, sangat mabuk, terus berpeluk. Tapi, separuh sadar kita tahu, pelukan sudah cukup.
Waktu, jarak, kehidupan sosial, cinta, kebanggan material, membuatmu terus berkembang dan dengan naturalnya, menjauh. Pun, saya bagimu. Ketika bertemu terakhir kali, kemarin pagi, saat menunggu bus menuju kantor, kukira bermimpi mendengar suaramu.
Ternyata benar kamu, melihatku dengan tersenyum, menarik tangan seorang perempuan. Istriku, katamu. Tidak lagi ada ucapmu yang sungguh kusimak setelahnya.
Telah kuhabiskan berlembar kertas dan bergigabyte file untuk menyusun akhir yang tepat bagi sejarah tentangmu. Seluruh dunia tahu sedalam apa arti saya untukmu. Seluruh dunia, kecuali saya.
Mungkin kamu kecewa jika saya jujur:
saya tidak mencintaimu.
Atau, belum.
Karena semua perahu yang membawa rumus tentangmu, tak pernah sampai di tepi.
Semua buku yang berjudul namamu, tak punya bab akhir.
Kamu, adalah tulisanku yang tak pernah selesai.
Sabtu, 03 November 2012
Kelakar
"Opera ini tak lucu!" kata seorang penonton.
Sebelum berbalik pulang, mereka lempari panggung itu dengan botol-botol aqua
dan sobekan tiket renta.
Rabu, 17 Oktober 2012
Klub Anti Hujan
Entah kapan aku bisa mencintai hujan. Lima belas menit yang lalu, usai pertemuan denganmu, hujan tiba-tiba mendera di tengah perjalanan. Bencinya aku minta ampun. Mereka berhasil membungkus kenangan tentangmu, yang baru saja berlalu. Sialnya, entah kapan lagi waktumu bisa kunikmati. Ribuan kutukan pun kukirimkan pada titik-titik yang membuatku setengah mati merindukan beberapa menit yang lalu itu. Mengapa mereka tak bisa berkompromi?
Entah sejak kapan aku mulai membenci hujan. Sejak lahir, mungkin, ya. Beberapa alasan yang cukup logis tepatnya seperti ini:
- Mereka layaknya kelompok penyanyi yang punya terlalu banyak penggemar. Semenit yang lalu, notifikasi media sosialku dipenuhi oleh pemujaan terhadapnya!
- Mereka kadang sembunyi terlalu lama di balik mendung, hanya agar dirindukan. Aku tahu trik itu.
- Mereka punya semacam hipnotis memabukkan. Lebih parah dari alkohol.
- Mereka juga punya rol-rol film masa lalu kita, lalu mereka proyeksikan seenaknya saat menyentuh tanah.
Selain itu, aku sungguh dirugikan. Semua topengku, yang jerih payah kuukir, meluntur mudah dengan gravitasinya.
Entah kapan aku bisa mencintai hujan. Mungkin nanti, ketika mereka telah membuat kesepakatan denganmu, untuk selalu datang bersamaan. Semua bisa butuh penawar, kan?
Selasa, 09 Oktober 2012
A Monochrome Prologue
It was Saturday night. John and I were going to ride.
John was so scared. He was afraid of the unknowns. Just like a child afraid of nightmares. He couldn't touch it, nor see it. But somehow, he could feel it. Cold into his bones. Sharp needles through his brain.
John looked out over the window. Nothing changed; the sky, trees, and several thunderbolts. He closed his eyes deeply, deeper. Ran to the kitchen, said this repeatedly over and over:
I said, John, I would go.He said, I know. And I said, you could go with me. He said, no, I'd rather stay.
He is late, late, I know. But I can feel him in my hereafter. I kiss him while he's dying - and me, myself, is reborn.
Born to kill the pasts: us.
