Rabu, 19 Agustus 2015

Dinding di Atas Kepala

Disusunnya bata itu satu per satu, sambil mengeruk kenangan. Sesekali berhenti ia, menghela oksigen, membukakan celah bagi darahnya yang terhimpit otot. Jantungnya berdetak biasa saja, tanpa tekanan, tanpa emosi.

Dinding itu telah cukup tinggi, pikirnya. Ia kembali ke beranda, menyeruput kopi hitam yang tadinya panas. Awan berjalan lambat -- tapi diperhatikannya segala hal pun begitu. Semut-semut berbaris lambat, air di selokan mengalir lambat, pikirannya.. pikirannya berputar lebih lambat. Lambat ke belakang, kadang diam. Tak sekalipun dihiraunya masa depan.

Dinding itu telah menutup masa depannya.

"Bangun. Ayo bangun!"
Perempuan itu bergeming. Busa keluar dari pucat bibirnya.
"Tidak, tidak. Ayo bangun. Bangun!"
Ia melirik celana kainnya yang penuh darah. Disentuhnya cairan kental itu, yang mengalir dari rahim dan hati.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi, kumohon."
Tidak ada yang menjawab. Tidak pula bergerak. Tidak ada angin yang mengeringkan airmata. Semua celah tertutup dinding.

Ada masa ketika peta itu tergambar jelas: tertawa bersama, bangun tidur bersama, membangun rumah, membesarkan anak, bermain bersama, hidup bahagia, menabung, mati bersama. Apa yang terjadi di tengah jalan?

"Kau membenciku."
"Aku tidak benci. Aku marah."
"Marah kenapa?"

Ia sendiri lupa mengapa ia begitu marah. Ubun-ubunnya penuh emosi tatkala itu, tak cukup ruang untuk menyimpan memori.

"Kau mau sendiri. Tapi lalu ada aku."

Ia menggeleng. Ia tidak mau sendiri. Siapa yang mau?

Kepalanya masih berputar lambat. Dinding ini dirasanya cukup untuk menyelimuti sisa hidupnya yang kelu. Satu tubuh perempuan dan satu embrio terbaring di bawah luas halaman di depannya. Setidaknya kita masih bersama.

"Ya, kau benar. Aku tidak bisa sendiri. Meski pada akhirnya, kita semua mati sendiri."

Tidak ada kopi senikmat itu. Yang bisa kau nikmati dalam dinding kuburmu sendiri, tepat di atas kepalamu, bersama mereka yang kau cintai.

Kamis, 06 Agustus 2015

Repetisi

Apa yang kau harapkan dari sebuah buku cetakan baru?

Desain sampul baru,
penerbit berbeda,
kertas jenis lain,
atau revisi

Tapi tak bisa kau harapkan cerita berbeda
Paragraf, bab, dan konflik akan sama saja
Bahkan jika penerjemah berbeda tafsir di sejumlah bagian,
pada ujungnya
tak bisa kau bahagiakan akhir yang sedih
atau meramaikan tamat yang sepi
atau menghidupkan tokoh yang mati.

Sabtu, 11 Juli 2015

Abstain

Di sana, di sudut malam
kulihat dia memandang dengan dosa dosa di matanya
persis pesakitan
merindu candu

Dia tahu, aku bukan pilihan untuk dicinta
Tapi dia tidak tahu,
sesibuk apapun mencari petunjuk,
bagaimana cara membatalkan cinta
yang tak pernah dipilihnya.

Seperti Pesta

Tadinya kukira ini pesta
sampai aku berakhir di toilet
menangis sendiri
muntah muntah kenangan yang kuteguk mentah mentah
lalu pulang dengan label pecundang

Aku memang mabuk, sayang.
Tapi cukup sadar untuk melihatmu hilang
sambil terus menyayang.

Selasa, 09 Juni 2015

Berhenti

Ada masa kau berhenti mencintaiku.
Di kala itu, langit menderukan hujan dan bulan berkeping pelan
Seluruh inderaku mati,
terbujur bersemut di samping peti

Di kala itu, tiang pancang siap melumat leherku tanpa penutup mata
Mungkin penutup matanya ada padamu?

Di kala itu, ruhku terenggut dari masa depanmu.

Ada masa kau berhenti mencintaiku.
Di sanalah aku membunuh puisi ini
dengan sebilah janji.