Minggu, 07 September 2014

Gerimis Pagi

Selalu ada cinta, meski usang,
di beranda oksipitalisku
Saking usangnya,
tak lagi terlihat kau yang jingga dengan senyum rindang
yang mudah lantas menjadi sulit
yang riang lalu mengerut
dan aku, terbaring amnesia
tentang detak rindu

Tak sering sama
ritme kita mengejar bahagia
dan aku tak suka barisanmu
Di tengah tetap mengiringi,
mampir aku sejenak - mencari hujan
berteman ke hati

Yang mudah lantas menjadi sulit: mencintamu.
Lalu cermin pun menayangkan seluruhku ---
yang tak layak dicinta.

Selasa, 02 September 2014

Matahari dan 12 Kura-kura

Kamu lihat rumah kecil di kaki gunung sana?




Di sana, tinggal seorang lelaki tua bersama 13 kura-kuranya. Ramai, tapi sunyi. Sesenyap lelaki tua itu sendiri.

Di antara ketiga belas kura-kura, ada satu yang paling tua ketimbang lainnya. Usianya hampir setengah abad. Heosemys spinosa, jenisnya. Berasal dari hutan hujan di Kalimantan, yang tempurungnya bergerigi menyerupai gambar matahari yang dibuat anak-anak. Mungkin karena itu ia dijuluki kura-kura matahari.

Tidak seperti kedua belas lainnya yang punya nama – Dum, Flick, Mino, Bo, Ning, Koro, Nambo, Kong, Blu, Mori, Simba dan Poka – kura-kura matahari ini tidak diberi nama. Si lelaki tetap memanggilnya ‘Matahari’, itu saja. Tapi, dibanding lainnya, ia pula yang paling cerdas. Tidak pernah memakan buah yang bukan jatahnya, mandi dan buang air pada tempatnya, dan datang jika dipanggil. Pernah juga, Matahari dilepas ke luar rumah, ia berjalan pulang kembali.

Suatu ketika, lelaki tua itu berinisiatif membuat sebuah kandang luas di belakang rumahnya. Kura-kuranya akan semakin besar, pikirnya, rumah kecilnya tak akan muat. Dengan tubuhnya yang kian renta, ia tidak boleh menunda-nunda lagi. Maka dihabiskannya 24 hari untuk memaku, menyusun batu dan bambu, menata tumbuh-tumbuhan rindang, hingga jadilah sebuah taman luas untuk para kura-kura bermain.

Di suatu Sabtu yang sejuk, dilepaskannya mereka di sana. Layaknya rindu alam bebas, semua kura-kura langsung berlari riang memakan rerumputan. Semua, kecuali Matahari. Ia hanya diam di sudut, menatap lelaki itu, lalu menyembunyikan badannya di balik pohon.

“Hei, kenapa?” tanya lelaki itu. “Tenang saja, kau akan terbiasa di luar sini.”

Matahari bergeming, kepalanya ditarik ke dalam tempurung.

“Bukankah begini memang seharusnya tempatmu?” lanjut lelaki itu, “Penuh tumbuhan dan udara bebas. Bukan di dalam rumah yang pengap.”

Matahari mendongak sejenak.

“Nah.” Kata lelaki itu sambil berdiri, “Sekarang tugasmulah membantuku mengawasi yang lain. Jangan sampai mereka kabur. Karena tidak sepertimu, mereka tidak tahu jalan pulang.”

Maka dengan puas beranjaklah lelaki itu meninggalkan mereka, untuk beristirahat di ranjang bambu dalam kamar sempitnya.


Saat pagi datang, ia tercengang. Matahari hilang! Segera, setiap sudut kandang diperiksanya. Pun, di balik pepohonan dan bebatuan. Nihil. Tidak pula ada pecahan karapas atau bagian tubuh yang lain. Menegaskan padanya: Matahari tidak diserang hewan liar, bukan. Tapi kabur.

Ia putuskan mencari lebih jauh. Berkeliling ia mulai dari sekitar rumahnya, lalu ke area persawahan, dan akhirnya mencoba merintis jauh ke dalam hutan. Dari pagi hingga pagi lagi, tak ada tanda hewan kecil itu. Hingga badannya melemah dan menyadari pencariannya sia-sia.

Perlahan runtuhan kecewa mengaliri darahnya. Kura-kura yang bersamanya puluhan tahun, dirawatnya selayak anak sendiri, dilatihnya hingga cerdas, hilang dalam semalam. Yang lebih menyakitkannya adalah fakta bahwa Matahari pergi dengan keinginan sendiri – dengan akal yang tidak dimiliki kura-kura lain. Dadanya terasa dihantam: inilah rasanya terkhianati. Lagi.


Imajinya terbang ke puluhan tahun lalu, saat hidup masih ramai. Seperti baru kemarin saja, ia mendapati sang kekasih berkhianat. Tidak itu saja, pelan-pelan hidup seperti mengulum hatinya yang tersisa. Satu per satu mereka pergi: teman, tetangga, hingga keluarga. Ada yang salah dengan hidupnya, pikirnya. Segala yang mampu berbicara tampaknya hanya bisa mencerca, memprotes. Jengah ia pada pertengkaran yang riuh, atau kebohongan yang menampar. Itulah awal ia menghindari manusia dan memilih menasbihkan hidup pada teman-teman melatanya, kura-kura. Hewan yang sunyi, tak banyak menuntut, dan berumur panjang – jadi bisa menemaninya hingga mati.

Tapi ternyata, Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkannya tentang sakit. Tak peduli lewat manusia atau hewan.

***

Puluhan tahun berlalu, lelaki tua itu masih menghabiskan senja bersama kedua belas kura-kura yang tersisa. Bedanya, ia tak lagi marah atau kecewa. Hanya berharap ia, agar semua yang meninggalkannya lebih bahagia tanpanya. Kekasih, teman, keluarga… terutama Matahari. Semoga ia cukup makan dan tak jadi santapan anjing liar.

Hari ini ulang tahunnya ke-80. Dua belas kura-kura dikumpulkannya di ruang tamu, berhimpit dalam sempit. Ia mengucap doa, bukan meminta, tapi bersyukur. Telah diberikan ia damai meski sendiri, tenang meski tak terang, bahagia meski tak kaya. Saat hendak dikembalikannya para kura-kura ke taman belakang, matanya tertumpu pada satu sosok di atas rerumputan. Ukurannya lebih besar dua kali lipat dibanding terakhir kali dilihatnya. Dari matanya yang hitam bulat, bisa ia lihat rindu:

Matahari.


“Masuklah,” ujarnya sambil menghela napas, “kau boleh tinggal di dalam rumah.”