Sabtu, 08 Februari 2020

Dering Hening dan Rongga Alpa

Saya bingung bagaimana menjelaskan pada Allah  ﷻ saat mengangkat tangan pada-Nya, bahwa ketakutan dan keinginan saya sebenarnya adalah satu hal yang sama.

Bahwa saya tidak kunjung paham, bahkan kepada ruang-ruang di kepala saya sendiri yang saling bertatap dekat, atau pada rongga hati yang kerap bersahutan nyaring.


"Tuh, kan. Kamu lupa!"


Saya menepuk jidat. Pada-Nya memohon ampun. Saya lupa bahwa Dia-lah Pemilik Hati, lebih dekat bahkan dari saya sendiri. Allah ﷻ tidak perlu penjelasan, dan saya berdoa bukan untuk membuat-Nya mengerti, tapi untuk diri saya sendiri. Astaghfirullah.

Dia, sang Maha Akbar, telah mengubah keadaan suatu negara yang tadinya adidaya, menjadi rapuh dan terkucil. Dia sungguh berkuasa atas segala sesuatu. Hingga perkara remah enteng seperti milikku kini. Meski bagi saya ini berat. Beraaat.

Tapi bagi Allah ﷻ, yang Maha Kuat, tentu tidak ada apa-apanya. Dia memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Dia melindungi dan mengabaikan siapa yang dikehendaki-Nya.

Saya kecil, sungguh kerdil. Cengeng dan tidak mandiri. Sungguh, bisa apa saya jika tidak punya Allah ﷻ. Dalam hening dan hiruk saya selalu butuh, butuh. Semoga Allah ﷻ tidak akan pernah mengabaikan saya, aamiin.

_____



"...Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, Rabb-ku."



يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا