Kamis, 13 Juni 2019

Rumah Gowa


                                   Kepada: Tim Terkasih


Jika diminta menuliskan harga properti di zaman ini, lengkap dengan spesifikasi: 
strategis, aman, bebas banjir, dekat dengan fasilitas publik, air lancar, halaman luas; sebagian kita mungkin membayangkan harga yang fantastis, bahkan jika sekadar untuk disewa atau kontrak.

Selama bertahun-tahun, Allah ﷻ meminjamkan semua itu pada kita, gratis. Bahkan Ia menambahkan nikmatNya; menjaga dan melapangkan anak-anak untuk tumbuh sehat di rumah ini. Pun, meluaskan spasi bagi hewan-hewan dan menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang kita sayangi. فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ? 

Tidak hanya menarik bagi kita, rumah ini pun mungkin memikat bagi tamu-tamu lain. Sebut saja kutilang, kupu-kupu, biawak, hingga sapi, pernah mampir ke halaman. Seperti pagi itu, saat seekor anak ayam yang tersesat dan menemukan keluarga baru bersama para kura-kura. 

Tahun-tahun  terasa amat singkat. Tapi dengan izin Allah ﷻ, kita belajar banyak. Bukankah itu tujuan setiap mukmin? 

Rumah, selalu seperti yang kita pahami: adalah tempat di manapun orang-orang yang kita sayangi berada. Maka di manapun itu, asal kita tetap bersama, tetap bisa bisa beribadah dengan tenang, tetap bisa membimbing anak-anak sesuai tuntunanNya, adalah rumah bagi kita. 

Tidak lagi di sini bukan berarti menghapus semua kenangan itu. Beberapa akan kita simpan di dada hingga ajal menjemput, beberapa yang lain akan kita bawa ke hari akhir. Semoga Allah ﷻ mengampuni yang salah dan menyempurnakan yang baik, nanti, di sana.

Senin, 10 Juni 2019

Suatu Pagi di Teras

                                                  Kepada: Diri


Coba lihat kembali 
orang-orang yang kau sayangi di dekatmu 
anak-anak yang memandangmu dengan ceria
bunga-bunga di halamanmu
hewan-hewan peliharaan yang selalu menyambutmu
langit yang terhampar luas di atas atapmu
rumah yang mengamankanmu

Semua itu kesenanganmu
dipilihkan oleh Rabbmu — Yang Paling Mengenalmu — 
untuk berada di sekelilingmu. 
Tidakkah kau patut menjadi hamba yang bersyukur?

Karena sungguh, hak Allah ﷻ atasmu
jauh lebih besar ketimbang seluruh amal yang bisa kau banggakan. 

Senin, 03 Juni 2019

Bahagia?


Apa itu 'bahagia'? 
Kalau pertanyaan ini dilontarkan oleh abegeh yang sedang mencari jati diri, kita mungkin akan tertawa sembari memaklumi. 
Tapi ternyata, tak sedikit yang telah hidup puluhan tahun dengan ribuan pengalaman dan khatam memahami diri, masih mendapati 'bahagia' itu rancu. 

Ada yang berangan akan bahagia jika memiliki rumah sendiri, ternyata tidak. 
Ada yang berekspektasi akan bahagia saat menggenggam karir impian, ternyata berujung kecewa. 
Bahkan ada yang memastikan diri akan bahagia jika hidup dengan pujaan jiwa, ternyata nihil. 

Bagaimana bisa? 
Oh, ternyata. Sedekat-dekatnya kita pada hati sendiri, tetap bukan kita pemiliknya. 

'Bahagia' versi manusia takkan pernah terpenuhi - kecuali - qana'ah menyusupi hati. Perlahan mengisi, memenuhi, dan mengikis hawa nafsu yang tadinya tamak dan tak pernah puas. Qana'ah mengganti hati yang katarak karena keluhan-keluhan, dengan kejernihan bernama syukur. 

Dengan seizin-Nya.


Carilah bahagia dalam tenang, pada Rabbmu. 


"Ghina’ bukanlah dengan banyaknya harta (atau kemewahan dunia). Namun ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

"Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu." 
(HR. Tirmidzi)