Kamis, 02 Mei 2013

Cinta Itu... Mahal?

"Cinta itu mahal, Sayang."
katamu, saat hendak menolak bicara tentangnya
Di sakumu, tersimpan recehan-recehan mimpi yang belum terwujud
yang lalu kau cukupkan dengan hadirku
yang bisa memeluk sewaktu-waktu saat kau miskin

"Cinta itu mahal, Sayang."
katamu, saat menghindari pikiran tentangnya
Daftar waktumu mungkin telah dipenuhi agenda minum kopi dan nonton bola
untuk sisanya kau takar bersamaku
di atas patron takdir yang berakar sejarah

"Cinta itu mahal, Sayang."
katamu, saat mengelak merasakannya.
Kau himpun tabungan untuk membeli yang tak terbeli,
demi senang, demi tenang, dan segala yang bisa terkenang,
lalu kau sadar dengan mahalnya,
tak kau temukan mata uang yang bisa melunasi


Ya,
sejak dulu aku tahu cinta itu mahal!
Tapi tak ku pedulikan itu
tetap ku serahkan ia sepenuh-penuhnya
untuk juragan tanpa mesin hitung:
kau.


(Di kantor, saat menunggu demonstrasi bungkam dan macet pergi, untuk segera pulang.)

Rabu, 24 April 2013

Di Rumahmu

Di rumahmu, waktu berjalan dengan sangat aneh
ayam berkokok pukul empat pagi
dan matahari terbit di pukul lima
sementara, aku selalu merasa risih jika di saat itu kita sedang tak berpeluk

Kau marah, karena tak kunjung ku mengerti waktu
ah, kuabai saja peka yang menggonggong
dan memilih memelukmu di sudut mimpi
tempat ribuan denting waktu di rumahmu hilang wewenang
lebur,
menjadi sepohon bonzai cantik di atas makam kelinciku.

Selasa, 26 Maret 2013

Well,

so I am getting married, so soon.

It's the biggest thing I've waited a whole life.
I guess, when it comes, all the butterflies in my tummy would be turning into lions
or bigger
but then in this situation, with all preparations, complexities, and hassles
there are no space to say hello to the lions or even small butterflies

Whatever it feels,
for whoever read this,
wish your blessings for us:
the new-comers of the unknown.



Sabtu, 15 Desember 2012

Kamu, yang Tak Pernah Selesai

Mungkin kamu marah jika saya jujur:
kamu bodoh.
Selalu saja kamu tergila-gila pada perempuan yang salah. Ingat saja pacar pertamamu yang pergi setelah tahu kamu tidak kaya-kaya amat. Atau, gadis yang baru saja kamu dapati mengecup hangat sahabat kental yang kamu juluki soulmate itu.
Kamu pun tak punya selera.
Musik, film, buku, fashion -- tidak, tidak ada. Arus, adalah identitasmu yang terus berubah.

Tapi kamu baik. Sungguh.
Kamu punya sepasang tangan yang tulus memberi segala yang kemudian kamu lupakan. Dan matamu, yang turut berbinar saat memastikanku senang. Kamu adalah orang yang pertama kali siaga saat larut malam saya jatuh sakit.
Dan sejauh yang kuingat, kamu cukup sabar menunggu saya.

Saya, yang dalam waktu yang sama,
sedang menunggu dia.
Saya masih ingat caramu memandang ketika dia datang, dan merampas semua waktu yang tadinya luang untuk kamu ganggu. Juga, kamu yang tetap betah berjam-jam mendengarku memujinya. Semua yang saya kira cinta, mulai dan berakhir di depanmu.
Kamu, selalu ada ketika bahagiaku menemui ujung.

Sampai di suatu malam, saat kamu dan saya sedang terhempas bersama,
menertawai kesialan atas kisah cinta yang tak kunjung sukses, kamu menawarkan sebuah harga:
Persahabatan ini, dengan mengubah sejumlah sudut pandang tertentu, bisa menjadi cinta, katamu.
Saya sungguh-sungguh terkejut -- termasuk terkejut dengan reaksi saya sendiri yang turut percaya.
Malam itu kita habiskan dengan saling menggenggam, berkeliling kota, sangat mabuk, terus berpeluk. Tapi, separuh sadar kita tahu, pelukan sudah cukup.

Kita berhenti di situ, malam itu juga.

Waktu, jarak, kehidupan sosial, cinta, kebanggan material, membuatmu terus berkembang dan dengan naturalnya, menjauh. Pun, saya bagimu. Ketika bertemu terakhir kali, kemarin pagi, saat menunggu bus menuju kantor, kukira bermimpi mendengar suaramu.
Ternyata benar kamu, melihatku dengan tersenyum, menarik tangan seorang perempuan. Istriku, katamu. Tidak lagi ada ucapmu yang sungguh kusimak setelahnya.

Telah kuhabiskan berlembar kertas dan bergigabyte file untuk menyusun akhir yang tepat bagi sejarah tentangmu. Seluruh dunia tahu sedalam apa arti saya untukmu. Seluruh dunia, kecuali saya.

Mungkin kamu kecewa jika saya jujur:
saya tidak mencintaimu.
Atau, belum.
Karena semua perahu yang membawa rumus tentangmu, tak pernah sampai di tepi.
Semua buku yang berjudul namamu, tak punya bab akhir.
Kamu, adalah tulisanku yang tak pernah selesai.

Maka, ketika itu kamu me


Senin, 10 Desember 2012

Desember












Bermain teka-teki mungkin telah menjadi hobimu
sejak lahir, tumbuh,
atau ditinggalkan cinta yang
padanya kau bernaung

Aku,
tetap kau jadikan satu baris kosong kotak-kotak di sudutmu
tak kunjung kau sentuh dengan jawaban, bahkan
tidak juga dengan pertanyaan pasti

Di sini, di pertengahan Desember
ku tetapkan misi untuk menjawab sendiri
pertanyaanmu untukku.